Home » , , » Awal Artis Memasuki Periklanan Indonesia

Awal Artis Memasuki Periklanan Indonesia


Iklan sebgai salah satu alat pemasaran yg ampuh langsung saja berdenyut dgn nafas baru yg segar. Beberapa perusahaan periklanan muncup pada masa ini. Demikian juga media buat beriklan. & periklanan pun menjadi marak. Dasawarsa 1970an juga ditandai dgn tampilanya selebritis Indonesia sebagai bintang iklan. Sabun Lux produksi Unilever boleh jadi merupakan trendsetter di bidang itu. Sejak dasawarsa 1950an, Lux sudah memakai slogan ”dipakai oleh 9 dari 10 bintang-bintang film”. Lux diidentifikasikan dgn bintang-bintang film rupawan berkelas dunia, antara lain : Sophia Loren.
Pada dasawarsa 1970an, slogan itu diubah sedikit menjadi ”sabun kecantikan bintang-bintang film”. Unilever juga mulai memakai bintang-bintang film Indonesia buat menjadi duta produknya. Widyawati, bintang film populer berpribadi lembut dgn kecantikkan memukau, tampil sebagai spokesperson Lux. Beberapa bintang film papan atas pun silih berganti tampil sebagai ”The Lux Lady”. Salah satu yg legendaris adalah Christine Hakim, bintang film temuan Teguh Karya. Produk detergen bermerk rinso pun memilih Krisbiantoro sebgai duta produk. Kris adalah seorang penyanyi merangkap master of ceremony yg kocak & menjadi presenter berbagai program televisi populer pada disaat itu. Popularitas Krisbiantoro pun beserta merts menjadi tuas yg ampuh buat mendongkrak popularitas rinso.level International Advertising Services (Lintas) perusahaan periklanan yg menganai produk-produk Unilever tidak hanya menumpang popularitas selebritis, melainkan juga melahirkan bintang-bintang baru. Robby Sugara, misalnya, ”hanyalah” seorang head waiter di sebuah restoran ketika terpilih menjadi bintang ”The Brisk Man”. Kehidupannya pun melejit seperti meteor.
3.6 Kelahiran Periklanan Modern Indonesia
Berbagai merk internasional mulai bermunculan di Indonesia & dgn garangnya berupaya meraup pangsa pasar sebesar-sebesarnya. Coca cola, Toyota, Mitsubishi, Fuji Film, American Express, Citibank, adalah sebagian dari nama-nama besar yg mulai membanjiri pasar Indonesia. Pada disaat yg sama, muncul pula local brands yg dipicu oleh kemudahan mendapatkan kredit penanaman modal dari lembaga-lembaga perbankan yg juga sedang bertumbuh pesat. Salah satu sektor yg paling hidup pada dasawarsa 1970an itu adalah industri farmasi dgn berbagai jenis obat baru yg diluncurkan pada disaat itu antara lain adalah Bodrex-obat sakit kepala yg populer hingga disaat ini. Begitu populernya nama Bodrex bahkan sampai dijadikan ikon jurnalistik Indonesia buat menyebut wartawan yg datang tak diundang.
Suasana baru di dunia usaha itu memicu berbagai kelahiran perusahaan periklanan. Tentu saja, yg pertama kali muncul justru perusahaan-perusahaan periklanan yg secara ilmiah terbawa oleh masuknya perusahaan multinasional ke Indonesia. Contohnya adalah Olgilvy & Mather yg berkibar di Jakarta dgn nama IndoAd di bawah pimpinan Emir Muchtar, karena hadirnya klien-klien O&M di Indonesia, seperti: American Express, dll. Sebelumnya O&M lahir di Indonesia dgn nama SH Benson, kemudian berubah menjadi Olgivy &Mather. Perubahan nama O&M menjadi IndoAd terkait Peraturan Menteri Perdagangan pada tahun 1970 yg melarang perusahaan periklanan asing di Indonesia. Contoh lain adalah McCann Erickson yg dibawa oleh Coca cola & kemudian mengibarkan bendera Perwanal Utama di bawah pimpinan Savrinus Suardi.
Sementara itu, perusahaan-perusahaan periklanan nasional lama pun mendapat angin dari transformasi ekonomi yg terjadi. Perusahaan itu antara lain: Bhineka yg dipimpin oleh tokoh lama Muhammad Napis, & InterVista yg dipimpin oleh Nuradi seorang mantan diplomat yg beralih ke dunia periklanan. InterVista adalah sebuah fenomena yg perlu dicatat secara khusus dalam sejarah periklanan Indonesia, khususnya karena Nuradi, pendirinya, dianggap sebagai perintis periklanan modern Indonesia. Setelah Proklamasi kemerdeaan Indonesia, Nuradi diangkat menjadi pegawai Departemen Luar Negri, Nuradi bertugas sebagai jurubahasa yg mendampingi Presiden Soekarno. Sebagai karyawan Departemen Penerangan, tugas Nuradi adalah penyiar siaran bahasa Inggris di RRI. Pada tahun 1950, Nuradi ditunjuk buat menjalankan misi khusus Uni soviet, & kemudian menjadi anggota Perwakilan Tetap Republik Indonesia di Markas Besar Perserikatan Bangsa-bangsa di New York selama di Amerika Serikat, Nuradi juga sempat menyelesaikan studi di Harvard University.
Perintis periklanan yg bernama Nuradi ini. Lahir di Jakarta, tanggal 10 Mei 1926. Seperti juga banyak pelaku periklanan modern, Nuradi pun tidak memperoleh pendidikan formal di bidang periklanan. Tahun 1946-1948 ia masuk Fakultas Hukum, Universitas Indonesia (darurat). Kemudian masuk Akademi Dinas Luar Negeri Republik Indonesia (1949-1950). Tahun-tahun berikutnya dia banyak mengenyam pendidikan di Amerika Serikat. Dia menjadi orang Indonesia pertama yg diterima di Foreign Service Institute, US State Department, Washington DC. Selanjutnya belajar penelitian sosial di New School, New York (1952-1954) & menyelesaikan studi bidang administrasi publik di Harvard University, Cambridge, Massachusetts. Kemudian selama setahun belajar bahasa di Universitas Sorbone & Universitas Besancon, Perancis.Tahun 1945, dia juga dikenal sebagai orang pertama diangkat sebagai pegawai negeri di Departemen Luar Negeri & di Departemen Penerangan. Yg terakhir ini, karena ia juga menjadi penyiar siaran Bahasa Inggris di Radio Republik Indonesia. Antara tahun 1946-1950, dia menjadi juru bahasa pribadi buat Bung Karno, Bung Hatta & Ir. Juanda & tahun 1949 sempat menjadi kepala bagian penerjemah pada delegasi Indonesia ke Konperensi Meja Bundar di Den Haag, Negeri Belanda. Tahun 1950 dia ditunjuk buat menjalankan misi khusus ke Uni Soviet & menjadi anggota perwakilan tetap Indonesia di markas PBB, New York. Karier sebagai pegawai negeri telah membawanya terlibat dalam banyak lagi tugas sebagai anggota delegasi, baik buat kepentingan nasional, maupun internasional. Dia mengundurkan diri dari Dinas Luar Negeri pada tahun 1957, buat bergabung dgn Perwakilan PRRI Sementara buat Singapura & Hongkong.

Perjalanan hidup Nuradi di dunia periklanan dimulai ketika tahun 1961-1962 mengikuti Management Training Course di SH Benson Ltd., London, perusahaan periklanan terbesar di Eropa disaat itu. Sedangkan pengalaman praktek periklanan diperolehnya melalui cabang perusahaan tersebut di Singapura. Sekembalinya ke Jakarta (1963) dia mendirikan perusahaan periklanannya sendiri, InterVista Advertising Ltd..
Pada awalnya, Nuradi hanya mengiklankan produk-produk milik ayahnya (Hotel Tjipajung) & kenalannya (PT Masayu, agen alat-alat berat). Ia juga membuat iklan buat usaha milik Judith Wawaruntu, sahabatnya yg secara timbal balik menjadi pembuat gambar buat iklan-iklan Intervista. Ketika menangani klien Lambretta, merek Scooter masa lalu, Nuradi buat pertama kali membuat slide buat iklan di Bioskop. Terobosan ini merupakan awal dari gebrakkan-gebrakkan Nuradi selanjutnya. Pada dasawarsa 1970an, InterVista telah mampu membuat film iklan produksi dalam negri, bahkan memperkerjakan seorang sutradara pribumi buat menanganinya secara khusus. Tidak heran bila dalam waktu singkat InterVista mendapat kepercayaan dari nama-nama besar seperti, Indomilk, Anker Bir, berbagai merek rokok keluaran British American Tobacco, Vespa & lain-lain. Beberapa karya iklan InterVista di masa itu, selalu mengundang decak kagum & menjadi pengingat (mnemonic) dibenak masyarakat, misalnya: Ini Bir Baru, Ini Baru Bir (Anker), Indomilk.....sedaaap, Makin Mesra dgn Mascot (rokok).

Awal dasawarsa 1970an juga ditandai oleh lahirnya berbagai perusahaan periklanan ketika itu lebih umum disebut biro iklan seperti: Libelle pimpinan Yo Wijayakusumah, Trinanda Chandra pimpinan Abdoel Moeid Chandra (juga pemilik radio swasta niaga dgn nama sama), Prima Advera pimpinana Usamah, AdForce pimpinan Sjahrial Djalil, Fortune pimpinan Indra Abidin bekerja sama dgn Mochtar Lubis, Hikmad & Chusen pimpianan H. Hamid Moerni, Metro pimpinan Henry Saputra, Rama Perwira, & lain-lain.
Share this article :

0 komentar:

mobile ads

 
powered by Blogger