Home » , » PERKEMBANGAN KOLONIALISME BARAT DI INDONESIA

PERKEMBANGAN KOLONIALISME BARAT DI INDONESIA

PERKEMBANGAN KOLONIALISME BARAT DI INDONESIA

A. Kebijakan Pemerintah Kolonial Di Indonesia Pada Abad Ke-19 & Abad Ke-20

Pada tahun 1580 Raja Philip dari Spanyol naik takhta. Ia berhasil mempersatukan Spanyol & Portugis. Akibatnya Belanda tidak dapat lagi mengambil rempah-rempah dari Lisabon yg sedang dikuasai Spanyol.

Pada tahun 1549 Claudius berhasil menemukan kunci rahasia pelayaran ke Timur jauh. Claudius kemudian menyusun peta yg disebut India Barat & India Timur. Akan tetapi, Claudius belum berhasil menemukan tempat-tempat yg aman dari serangan Portugis. Belanda bernama Linscoten berhasil menemukan tempat-tempat di Pulau Jawa yg bebas dari tangan Portugis & banyak menghasilkan rempah-rempah utuk diperdagangkan.

Pada tahun 1595 Cornelius de Houtman yg sudah merasa mantap, mengumpulkan modal buat membiayai perjalanan ke Timur Jauh. Pada bulan April 1595, Cornelis de Houtman & de Keyzer dgn 4 buah kapam memimpin pelayaran menuju Nusantara.

Atas prakarsa dari dua dua tokoh Belanda, yaitu Pangeran Maurits & Johan van Olden Barnevelt, pada tahun 1602 kongsi-kongsi dagang Belanda dipersatukan menjadi sebuah kongsi dagang besar yg diberi nma VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie) atau Persekutuan Maskapai Perdagangan Hindia Timur.

VOC mengangkat seorang gubernur jenderal yg dibantu oleh empat orang anggota yg disebut Raad van Indie (Dewan India). Di bawah gubernur jenderal diangkat beberapa gubernur yg memimpin suatu daerah. Di bawah gubernur terdapat beberapa residen yg dibantu oleh asisten residen.

Pada tahun 1795 Partai Patriot Belanda yg anti raja, atas bantuan Prancis berhasil merebut kekuasaan & membentuk pemerintah baru yg disebut Republik Bataaf (Bataafsche Republiek). Republik ini menjadi bawahan Prancis yg sedang dipimpin oleh Napoleon Bonaparte. Raja Belanda Willem V, melarikan diri & membentuk pemerintah peralihan di Inggris yg pada waktu itu menjadi musuh Prancis.

Letak geografis Belanda yg dekat dgn Inggris menyebabkan Napoleon Bonaparte merasa perlu menduduki Belanda. Pada taun 1806, Prancis (Napoleon) membubarkan Republik Bataaf & membentuk Koninkrijk Holland (Kerajaan Belanda). Napoleon kemudian mengangkat Louis Napoleon sebagai Raja Belanda & berarti sejak disaat itu pemerintah yg berkuasa di Nusantara adalah pemerintah Belanda-Perancis.

Louis Napoleon mengangkat Herman Willem Daendels sebagai gubernur Jenderal di Nusantara. Daendels mulai menjalankan tugasnya pada tahun 1808 dgn tugas utama mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris.

Sebagai seorang revolusioner, Daendels sangat mendukung perubahan-perubahan liberal. Ia juga bercita-cita buat memperbaiki nasib rakyat dgn memajukan pertanian & perdagangan.

Pembaharuan yg dilakukan Dandels dalam tiga tahun masa jabatannya di Indonesia adalah sebagai berikut:

a) Pusat pemerintahan (Weltevreden) dipindahkan masuk ke pedalaman.

b) Dewan Hindia Belanda sebagai dewan legislative pendamping gubernur jenderal dibubarkan.

c) Membentuk sekretaris negara

d) Pulau Jawa dibagi menjadi 9 prefektuur & 31 kabupaten.

e) Para Bupati dijadikan pegawai pemerintahan.

Eduar Douwes Dekker mantan Assisten Residen Lebak, Banten. Ia memprotes pelaksanaan tanam paksa melalui tulisannya yg berjudul Max Havelaar. Tulisan tersebut mengisahkan penderitaan Saijah & Adinda akibat tanam paksa di Lebak Banten. Di daam tulisan tersebut ia menggunakan nama samaran Multatuli yg artinya “saya sangat menderita.”

Politik ekonomi liberal colonial dilatarbelakangi oleh hal-perihal sebagai berikut:

1) Pelaksanaan sistem tanam paksa telah menimbulkan penderitaan rakyat pribumi.

2) Berkembangnya paham liberalisme

3) Adanya Traktat Sumatra pada tahun 1871 yg memberikan kebebasan bagi Belanda buat meluaskan wilayah ke Aceh.

B. Perkembangan Ekonom & Demografi Di Indonesia Pada Masa Kolonial

Faktor alamiah seperti keterpencilan & adanya hutan-hutan tropis yg sulit ditembus, pertumbuhan penduduk pada suatu daerah juga ditentukan olehperkembangan teknologi pertanian, kesehatan, & keamanan. Faktor lain yg mempengaruhi pertumbuhan penduduk adalah ekstensifikasi & intensifikasi pertanian beserta adanya proses imigrasi, baik intern maupun ekstern.

Salah satu akibat dari penetrasi bangsa Barat yg makin mendalam di Jawa adalah pertumbuhan penduduk yg makin cepat. Perihal itu disebabkan menurunnya angka kematian, sedangkan angka kelahiran tetap tinggi. Menurunnya angka kematian disebabkan usaha kesehatan rakyat oleh Pemerintah Hindia-Belanda. Perbaikan distribusi makanan melalui perbaikan jalan raya.

Pertumbuhan penduduk antara tahun 1905 sampai 1920 agak tersendat-sendat. Perihal itu akibat tingginya angka kematian, yaitu sekitar 32,5 sampai 35 per seribu jiwa. Angka kematian tertinggi terjadi pada tahun 1918 ketika wabah penyakit membunuh puluhan ribu jiwa sehingga pertumbuhan penduduk terendah terjadi antara tahun 1917 sampai 1920, bahkan di beberapa daerah terjadi pengurangan.

Sesudah tahun 1920 pertumbuhan penduduk berlangsung dgn cepat. Antara tahun 1920 & 1930 pertumbuhan penduduk pulau Jawa sekitar 17,6 per seribu jiwa.

Ketika sensus tahun 1930 diadakan, penduduk Indonesia telah berjumlah 60,7 juta jiwa. Dari jumlah itu 41,7 juta jiwa berdiam di Pulau Jawa. Berdasarkan perhitungan pertumbuhan penduduk di Indonesia sekitar 79,4 juta jiwa. Di Jawa jumlah penduduknya sekitar 48,4 juta jiwa, sedangkan di daerah luar Jawa jumlah penduduknya sekitar 22 juta Jiwa.

1. Migrasi Intern

Migrasi intern berarti perpindahan penduduk dari satu daerah ke daerah lainnya satu pulau, baik secara individu maupun kelompok.

Tidak meratanya persebaran penduduk di beberapa wilayah di Nusantara mendorong terjadinya perpindahan penduduk (migrasi). Tekanan sosial ekonomi dari daerah yg padat penduduknya mendorong perpindahan ke wilayah yg masih jarang penduduknya & punya kemungkinan buat dikembangkan.

Peperangan & ancaman keamanan juga merupakan faktor penting bagi terjadinya perpindahan pendduk sejak zaman VOC.

Dibukanya jalan kereta api yg menghubungkan Kalisat-Banyuwangi pada tahun 1901 merupakan salah satu pendorong bagi migrasi dari Jawa Tengah ke ujung Jawa Timur yg masih kosong.

Oleh karena besarnya migrasi orang Madura ke ujung timur Pulau Jawa mengakibatkan pada tahun 1930 diperkirakan hanya sekitar 45% suku bangsa Madura yg tetap tinggal di pulau asal.

Perpindahan intern yg lain, khususnya di Tapanuli & Sumatra Barat terjadi karena dorongan buat mendapatkan daerah baru & atas ajakan pemerintah Belanda buat bekerja di perkebunan.

Pada tahun 1926 naik menjadi 26.000 jiwa, sedangkan pda tahun 1930 jumlahnya naik menjadi 42.000 jiwa. Sekitar 60% dari penduduk yg meninggalkan Tapanuli menetap di Sumatra Timur. Pada tahun tersebut pendatang dari Toba-Batak hampir sama dgn jumlah penduduk asli.

Orang-orang Minangkabau, Sumatra Barat lebih banyak mengadakan migrasi iterern perseorangan. Mereka bekerja sebagai pedagang atau tukang. Pada mulanya daerah rantau mereka ialah kota-kota di Sumatra Barat. Sejak awal abad ke 20 banyak dari mereka yg pindah ke Sumatra Timur & Lampung. Diketahui pula bahwa 23,5% dari kepala keluarga di wilayah itu adalah wanita.

2. Migrasi Eksternal

Keterbukaan kesempatan bekerja & berusaha mendorong migrasi ekstern, yaitu perpindahan penduduk dari satu pulau ke pulau lainnya baik secara berkelompok maupun sendiri-sendiri. Pulau Jawa sebagai pusat kegiatan ekonomi & politik pada zaman colonial tentu saja menjadi pusat terpenting mobilitas ini. Dari jawa banyak mengalir migrant ke pulau-pulau lain & sebaliknya pendatang dari pulau lain banyak mencari penghidupan baru ke Pulau Jawa.

Aliran pendatang ke Pulau Jawa sebagai salah satu akibat dari daya tarik Jawa sebagai pusat kegiatan yg berkaitan dgn modernisasi yg diperkenalkan oleh Pemerintah Belanda. Pendidikan menengah & tinggi terutama berada di kota-kota besar di Pulau Jawa, seperti Jakarta, Bandung, & Surabaya. Migrasi kaum terpelajar dari berbagai daerah, walaupun jumlah mereka tidak besar, merupakan salah satu faktor penting dari berkembangnya nasionalisme Indonesia.

Selain golongan terpelajar, ada pula pendatang-pendatang lain ke Pulau Jawa seperti pedagang, pegawai, tukang, & militer. Di Jawa Barat banyak pendatang dari Sumatra Barat, Minahasa, & Maluku. Di Jawa Tengah pendatang terbanyak dari Maluku. Di Jawa Timur banyak pendatang yg berasal dari Minahasa & maluku.

Migrasi ekstern dari pulau Jawa yg terbanyak adalah ke Sumatra. Migrasi dari Jawa ke Sumatra Timur disebabkan oleh pembukaan perkebunan-perkebunan besar, sedangkan migrasi dari Jawa ke Lampung disebabkan oleh penyempitan areal pertanian karena pertambahan jumlah penduduk.

Pelaksanaan emigrasi yg dilakukan oleh pemerintah terjadi setelah pemerintah menerima laporan tentang kemiskinan dari keresidenan Kedua. Pada tahun 1905 kelompok transmigrasi pertama sebanyak 155 keluarga didatangkan dari kedu ke Gedongtataan, Lampung, yg kemudian mendirikan sebuah desa. Sampai pada tahap ini kelihatan kegagalan yg mencolok yg disebabkan sebagai berikut:

1) Pemerintah colonial kurang mengadakan survey yg mendalam tentang daerah yg akan didatangi para transmigran.

2) Para transmigran kurang terseleksi. Banyak di antara mereka yg sudah tidak produktif karena sudah tua.

3) Pemberian bantuan kredit buat para transmigran berjalan kurang baik.

4) Kesehatan kurang terjamin sehingga angka kematian lebih tinggi dari angka kelahiran.

Dapat dikatakan bahwa pada sepuluh tahun pertama & kedua abad ke-20 transmigrasi berjalan tersendat-sendat. Walaupun demikian, pada tahun 1930 di Lampung telah menetap 20.282 orang transmigran, sedangkan di Sumatra Timur & Bengkulu masing-masing berjumlah 4.767 & 1.924 orang.

Baru pada sepuluh tahun ketiga abad ke-20 transmigrasi besar-besaran diadakan. Pada masa ini transmigrasi didasarkan pada 10 pantangan, di antaranya tidak memilih yg bukan petani, orang tua, & orang bujangan.

C. Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Indonesia pada Masa Kolonial

Peraturan hukum ketatanegaraan Hindia Belanda mengenai penggolongan penduduk di Nusantara adalah sebagai berikut:

1. Golongan Eropa & yg dipersamakan terdiri dari:

1) bangsa Belanda & keturunannya

2) bangsa-bangsa Eropa lainnya seperti Portugis, Prancis, & Inggris, serta

3) orang-orang bangsa lain (bukan Eropa) yg telah dipersamakan dgn Eropa karena kekayaan, keturunan bangsawan, & pendidikan.

2. Golongan Timur Asing yg terdiri dari golongan Cina, Arab, India, & Pakistan. Mereka berada pada lapisan menengah.
3. Golongan pribumi yaitu bangsa Indonesia asli (bumiputra) yg berada pada lapisan bawah.

Dalam masyarakat pribumi dikenal adanya pelapisan sosial berdasarkan status sosialnya, yaitu lapisan bawah, menengah, & lapisan atas.

1. Lapisan bawah adalah rakyat jelata yg merupakan penduduk terbesar & hidup melarat, bekerja sebagai petani & buruh perkebunan.
2. Lapisan menengah meliputi para pedagang kecil & menengah, petani-petani kaya, beserta pegawai.
3. Lapisan atas terdiri atas keturunan-keturunan bangsawan atau kerabat raj yg memerintah suatu daerah. Golongan ini biasanya disebut elite tradisional & elite daerah.

Mobilitas geografis adalah perpindahan tempat tinggal yg terwujud dalam migrasi ekstern maupun migrasi intern & urbanisasi, sedangkan mobilitas sosiologis berarti perpindahan pekerjaan atau kedudukan seseorang. Mobilitas sosiologis dibagi menjadi, mobilitas horizontal & mobilitas vertikal. Mobilitas horizontal berarti perubahan status atau pekerjaan seseorang tapi dalam kelas atau tingkat sosial yg sama. Mobilitas vertikal berarti perubahan status atau pekerjaan seseorang naik dari tingkat bawah ke tingkat yg lebih atas.

Dgn demikian kita mengenal bermacam elite Indonesia baru, seperti elite politik, elite budaya, & elite agama. Kesemuanya bertujuan buat memperjuangkan kepentingan nasional, mereka pun disebut sebagai elite nasional.

Pemerintah Kolonial Belanda merasa perlu memberikan perhatian khusus dalam menghadapi masyarakat Indonesia yg mayoritas beragama Islam. Dalam sejarah colonial Belanda, ternyata ideology Islam merupakan kekuatan yg besar sekali dalam mengadakan perlawanan terhadap kekuatan asing di berbagai daerah. Contohnya Perang Padri, Perang Diponegoro, Perang Aceh, beserta pemberontakan petani seperti peristiwa Cilegon & Cimareme, semua dipimpin oleh pemuka Islam & dijiwai oleh ideology Islam.

Snouck Hurgronje yg telah mempelajari Islam secara cukup mendalam tiba di Nusantara pada tahun 1889. Sejak disaat itu, politik terhadap Islam atas nasihatnya mulai didasarkan atas fakta-fakta & bukan atas rasa takut belaka. Ia mengemukakan bahwa tidak setiap pemimpin Islam bersikap bermusuhan dgn pemerintah colonial & orang yg baru pulang naik haji tidak dgn sendirinya menjadi orang fanatic & suka memberontak.

Kebijakan yg diajukan oleh Snouck Hurgronje ini merupakan bagian dari pandangan tentang masa depan Nusantara. Menurutnya, orang Islam di Nusantara hanya dapat menerima pemerintahan asing secara terpaksa. Dalam menghadapi Islam, penguasa colonial dapat mengharapkan dukungan dari kaum adat. Akan tetapi, golongan itu tidak kuasa menahan pengaruh, baik dari perkembangan Islam maupun dari proses modernisasi sehingga politik ini pun tidak dapat diharapkan buat mencapai tujuan jangka panjang.

Ia menyarankan agar dilakukan perubahan masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yg “dimodernkan” dgn budaya barat (westernisasi).

Kejadian-kejadian sekitar tahun 1912-1916 ketika Sarekat Islam sedang berkembang pesat, menunjukkan betapa peranan ideology Islam dalam menggerakkan rakyat. Ternyata buat masyarakat tradisional perbedaan yg diuat oleh Snouck Hurgronje tidaklah sesuai.

Walaupun demikian, beberapa pejabat seperti Snouck Hurgronje, Rinkes, Gonggrijp menyarankan agar Sarekat Islam diakui pendiriannya karena mereka berpandangan bahwa keberadaan Sarekat Islam merupakan kebangkitan suatu bangsa buat menjadi dewasa, baik dalam bidang politik maupun sosial.

Organisasi Islam berikutnya yg muncul setelah Sarekat Islam adalah Muhammadiyah. Organisasi ini bersifat reformis & nonpolitik. Kegiatan-kegiatannya dipusatkan dalam bidang pengajaran, kesehatan rakyat, & kegiatan sosial lainnya.

Menjelang abad ke-20 terjadilah perubahan-perubahan masyarakat di Indonesia, khususnya disebabkan oleh terbukanya negeri ini bagi perekonomian uang.

Gagasan tentang kemajuan itu juga muncul pada diri R.A. Kartini (1879-1904). Gagasannya tersebut dituangkan dalam surat-surat pribadinya yg diterbitkan pada tahun 1912 atas usaha J.H. Abendanon dgn judul Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Penerbitan buku itu menimbulkan rasa simpati mengenai gerakan emansipasi wanita di Nusantara.

Keadaan gadis-gadis seperti yg dialami Kartini, juga terdapat di daerah Pasundan. Seorang guru Belanda yg berada di Indonesia pada tahun 1913 menulis tentang keadaan wanita Sunda. Dalam tulisannya tersebut ia mengemukakan bahwa kehidupan wanita Sunda melalui tiga periode, yaitu sebagai berikut:

a. Masa kanak-kanak yg penuh kegembiraan

b. Masa kehidupan patuh sebagai istri & ibu

c. Masa penuh pengaruh sebagai nenek

Kehidupan gadis semacam itu sebenarnya hanya terdapat pada kalangan menak (bangsawan) yg berbeda dgn gadis-gadis dari kalangan petani maupun pekerja. Keterbelakangan pendidikan menjadi pola yg umum pada mereka. Pada golongan petani & pekerja, perkawinan di bawah umur sering terjadi seperti halnya pada golongan menak. Oleh karena itu, Kartini sangat mendambakan pengajaran bagi gadis-gadis.

Fase berikutnya dari gerakan wanita Indonesia diawali dgn berdirinya sebuah Perkumpulan Putri Mardika. Perkumpulan itu bertujuan buat mencari bantuan keuangan bagi gadis-gadis yg ingin melanjutkan pelajaran. Sedangkan Perkumpulan Kartinifonds (Dana Kartini) didirikan pada tahun 1912 atas usha Tuan & Nyonya C. Th. Van Deventer yg bertujuan buat mendirikan sekolah-sekolah Kartini. Sekolah yg pertama didirikan di Semarang pada tahun 1913, kemudian menyusul di kota-kota Jakarta, Malang, Madiun, & Bogor.


Sementara itu muncul banyak sekali Perkumpulan wanita, antara lain Madju Kemuliaan di Bandung Pawijatan Wanita di Magelang, Wanita Susilo di Pemalang, & Wantia Hadi di Solo. Organisasi keagamaanpun memiliki bagian organisasi kewanitaannya, seperti Wanito Katholik, Aisyiah dari Muhammadiyah, Nahdlatul Fataad dari NU, & Wanudyo Utomo dari SI.

Di samping organisasi-organisasi wanita, terdapat juga surat kabar & majalah wanita yg berfungsi sebagai penyebar gagasan kemajuan kaum wanita & juga sebagai media pendidikan & pengajaran. Pada tahun 1909 di Bandung terbit Poetri Hindia, walaupun dgn redaksi kaum laki-laki. Di Brebes pada tahun 1913 terbit Wanito Sworo yg dipimpin oleh seorang guru dari Ponorogo. Wanito Sworo terbit dgn menggunakan bahasa & huruf Jawa. Sebagian juga dalam bahasa Melayu. Isinya mengenai kewanitaan praktis.

Poetri Merdika di Jakarta merupakan surat kabar yg sangat maju pada tahun 1914. Artikel-artikelnya tertulis dalam bahasa Belanda, Melayu, & Jawa. Melalui terbitnya Poetri Merdika, semangat emansipasi wanita bebeserta masalah-masalah yg terkait dengannya didiskusikan. Perpaduan pendidikan antara kaum laki-laki & perempuan, pemberian kelonggaran bergerak bagi kaum putri, berpakaian Eropa, beserta kesempatan pendidikan & pengajaran merupakan bahan perdebatan yg cukup menarik.

Beberapa surat kabar yg lain misalnya, di Semarang terbit Estri Oetomo, di Padang terdapat Soera Perempuan dgn redaksi Nona Saadah yg seorang guru HI, di Me& terbit Perempoean Bergerak dgn redaksi Parada Harahap.

Kongres wanita pertama diadakan pada tanggal 22 Desember 1928 setelah mendapatkan pengaruh dari diselenggarakannya Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928 yg melahirkan Sumpah Pemuda. Kongres Wanita tersebut melahirkan Perserikatan Perhimpunan Istri Indonesia (PPII). Tanggal 22 Desember kemudian diperingati sebagai hari ibu sebagai hari lahirnya kesadaran yg mendalam wanita Indonesia tentang nasibnya, kewajibannya, kedudukannya, & keangotaannya dalam masyarakat.

Berbeda dgn PPII, Istri Sedar yg didirikan di Bandung pada tanggal 27 Maret 1923 semata-mata merupakan organisasi politik. Pada tahun 1932, setelah kongresnya yg kedua, salah satu programnya adalah menyokong suatu pendidikan nasional yg berdasarkan kebutuhan kaum melarat & atas dasar-dasar kemerdekaan & percaya kepada diri-sendiri. Tahun 1932 merupakan tahun perlawanan umum terhadap undang-undang. “sekolah liar” yg kemudian menjadi tema sebuah novel Suwarsih Djojopuspito berjudul Buiten het Gareel (Diluar Kekangan). Suwarsih adalah istri Sugondo Djojopuspito (Ketua Kongres Pemuda II) yg pada waktu itu menjadi pimpinan Sekolah Taman Siswa, Bandung. Selain itu bukunya tersebut juga menggambarkan betapa eratnya Taman Siswa & gerakan nasional beserta pandangan penulisnya sebagai penganut feminisme & nasionalisme yg terkandung dalam Istri Sedar. PERKEMBANGAN KOLONIALISME BARAT DI INDONESIA

A. Kebijakan Pemerintah Kolonial Di Indonesia Pada Abad Ke-19 & Abad Ke-20

Pada tahun 1580 Raja Philip dari Spanyol naik takhta. Ia berhasil mempersatukan Spanyol & Portugis. Akibatnya Belanda tidak dapat lagi mengambil rempah-rempah dari Lisabon yg sedang dikuasai Spanyol.

Pada tahun 1549 Claudius berhasil menemukan kunci rahasia pelayaran ke Timur jauh. Claudius kemudian menyusun peta yg disebut India Barat & India Timur. Akan tetapi, Claudius belum berhasil menemukan tempat-tempat yg aman dari serangan Portugis. Belanda bernama Linscoten berhasil menemukan tempat-tempat di Pulau Jawa yg bebas dari tangan Portugis & banyak menghasilkan rempah-rempah utuk diperdagangkan.

Pada tahun 1595 Cornelius de Houtman yg sudah merasa mantap, mengumpulkan modal buat membiayai perjalanan ke Timur Jauh. Pada bulan April 1595, Cornelis de Houtman & de Keyzer dgn 4 buah kapam memimpin pelayaran menuju Nusantara.

Atas prakarsa dari dua dua tokoh Belanda, yaitu Pangeran Maurits & Johan van Olden Barnevelt, pada tahun 1602 kongsi-kongsi dagang Belanda dipersatukan menjadi sebuah kongsi dagang besar yg diberi nma VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie) atau Persekutuan Maskapai Perdagangan Hindia Timur.

VOC mengangkat seorang gubernur jenderal yg dibantu oleh empat orang anggota yg disebut Raad van Indie (Dewan India). Di bawah gubernur jenderal diangkat beberapa gubernur yg memimpin suatu daerah. Di bawah gubernur terdapat beberapa residen yg dibantu oleh asisten residen.

Pada tahun 1795 Partai Patriot Belanda yg anti raja, atas bantuan Prancis berhasil merebut kekuasaan & membentuk pemerintah baru yg disebut Republik Bataaf (Bataafsche Republiek). Republik ini menjadi bawahan Prancis yg sedang dipimpin oleh Napoleon Bonaparte. Raja Belanda Willem V, melarikan diri & membentuk pemerintah peralihan di Inggris yg pada waktu itu menjadi musuh Prancis.

Letak geografis Belanda yg dekat dgn Inggris menyebabkan Napoleon Bonaparte merasa perlu menduduki Belanda. Pada taun 1806, Prancis (Napoleon) membubarkan Republik Bataaf & membentuk Koninkrijk Holland (Kerajaan Belanda). Napoleon kemudian mengangkat Louis Napoleon sebagai Raja Belanda & berarti sejak disaat itu pemerintah yg berkuasa di Nusantara adalah pemerintah Belanda-Perancis.

Louis Napoleon mengangkat Herman Willem Daendels sebagai gubernur Jenderal di Nusantara. Daendels mulai menjalankan tugasnya pada tahun 1808 dgn tugas utama mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris.

Sebagai seorang revolusioner, Daendels sangat mendukung perubahan-perubahan liberal. Ia juga bercita-cita buat memperbaiki nasib rakyat dgn memajukan pertanian & perdagangan.

Pembaharuan yg dilakukan Dandels dalam tiga tahun masa jabatannya di Indonesia adalah sebagai berikut:

a) Pusat pemerintahan (Weltevreden) dipindahkan masuk ke pedalaman.

b) Dewan Hindia Belanda sebagai dewan legislative pendamping gubernur jenderal dibubarkan.

c) Membentuk sekretaris negara

d) Pulau Jawa dibagi menjadi 9 prefektuur & 31 kabupaten.

e) Para Bupati dijadikan pegawai pemerintahan.

Eduar Douwes Dekker mantan Assisten Residen Lebak, Banten. Ia memprotes pelaksanaan tanam paksa melalui tulisannya yg berjudul Max Havelaar. Tulisan tersebut mengisahkan penderitaan Saijah & Adinda akibat tanam paksa di Lebak Banten. Di daam tulisan tersebut ia menggunakan nama samaran Multatuli yg artinya “saya sangat menderita.”

Politik ekonomi liberal colonial dilatarbelakangi oleh hal-perihal sebagai berikut:

1) Pelaksanaan sistem tanam paksa telah menimbulkan penderitaan rakyat pribumi.

2) Berkembangnya paham liberalisme

3) Adanya Traktat Sumatra pada tahun 1871 yg memberikan kebebasan bagi Belanda buat meluaskan wilayah ke Aceh.

B. Perkembangan Ekonom & Demografi Di Indonesia Pada Masa Kolonial

Faktor alamiah seperti keterpencilan & adanya hutan-hutan tropis yg sulit ditembus, pertumbuhan penduduk pada suatu daerah juga ditentukan olehperkembangan teknologi pertanian, kesehatan, & keamanan. Faktor lain yg mempengaruhi pertumbuhan penduduk adalah ekstensifikasi & intensifikasi pertanian beserta adanya proses imigrasi, baik intern maupun ekstern.

Salah satu akibat dari penetrasi bangsa Barat yg makin mendalam di Jawa adalah pertumbuhan penduduk yg makin cepat. Perihal itu disebabkan menurunnya angka kematian, sedangkan angka kelahiran tetap tinggi. Menurunnya angka kematian disebabkan usaha kesehatan rakyat oleh Pemerintah Hindia-Belanda. Perbaikan distribusi makanan melalui perbaikan jalan raya.

Pertumbuhan penduduk antara tahun 1905 sampai 1920 agak tersendat-sendat. Perihal itu akibat tingginya angka kematian, yaitu sekitar 32,5 sampai 35 per seribu jiwa. Angka kematian tertinggi terjadi pada tahun 1918 ketika wabah penyakit membunuh puluhan ribu jiwa sehingga pertumbuhan penduduk terendah terjadi antara tahun 1917 sampai 1920, bahkan di beberapa daerah terjadi pengurangan.

Sesudah tahun 1920 pertumbuhan penduduk berlangsung dgn cepat. Antara tahun 1920 & 1930 pertumbuhan penduduk pulau Jawa sekitar 17,6 per seribu jiwa.

Ketika sensus tahun 1930 diadakan, penduduk Indonesia telah berjumlah 60,7 juta jiwa. Dari jumlah itu 41,7 juta jiwa berdiam di Pulau Jawa. Berdasarkan perhitungan pertumbuhan penduduk di Indonesia sekitar 79,4 juta jiwa. Di Jawa jumlah penduduknya sekitar 48,4 juta jiwa, sedangkan di daerah luar Jawa jumlah penduduknya sekitar 22 juta Jiwa.

1. Migrasi Intern

Migrasi intern berarti perpindahan penduduk dari satu daerah ke daerah lainnya satu pulau, baik secara individu maupun kelompok.

Tidak meratanya persebaran penduduk di beberapa wilayah di Nusantara mendorong terjadinya perpindahan penduduk (migrasi). Tekanan sosial ekonomi dari daerah yg padat penduduknya mendorong perpindahan ke wilayah yg masih jarang penduduknya & punya kemungkinan buat dikembangkan.

Peperangan & ancaman keamanan juga merupakan faktor penting bagi terjadinya perpindahan pendduk sejak zaman VOC.

Dibukanya jalan kereta api yg menghubungkan Kalisat-Banyuwangi pada tahun 1901 merupakan salah satu pendorong bagi migrasi dari Jawa Tengah ke ujung Jawa Timur yg masih kosong.

Oleh karena besarnya migrasi orang Madura ke ujung timur Pulau Jawa mengakibatkan pada tahun 1930 diperkirakan hanya sekitar 45% suku bangsa Madura yg tetap tinggal di pulau asal.

Perpindahan intern yg lain, khususnya di Tapanuli & Sumatra Barat terjadi karena dorongan buat mendapatkan daerah baru & atas ajakan pemerintah Belanda buat bekerja di perkebunan.

Pada tahun 1926 naik menjadi 26.000 jiwa, sedangkan pda tahun 1930 jumlahnya naik menjadi 42.000 jiwa. Sekitar 60% dari penduduk yg meninggalkan Tapanuli menetap di Sumatra Timur. Pada tahun tersebut pendatang dari Toba-Batak hampir sama dgn jumlah penduduk asli.

Orang-orang Minangkabau, Sumatra Barat lebih banyak mengadakan migrasi iterern perseorangan. Mereka bekerja sebagai pedagang atau tukang. Pada mulanya daerah rantau mereka ialah kota-kota di Sumatra Barat. Sejak awal abad ke 20 banyak dari mereka yg pindah ke Sumatra Timur & Lampung. Diketahui pula bahwa 23,5% dari kepala keluarga di wilayah itu adalah wanita.

2. Migrasi Eksternal

Keterbukaan kesempatan bekerja & berusaha mendorong migrasi ekstern, yaitu perpindahan penduduk dari satu pulau ke pulau lainnya baik secara berkelompok maupun sendiri-sendiri. Pulau Jawa sebagai pusat kegiatan ekonomi & politik pada zaman colonial tentu saja menjadi pusat terpenting mobilitas ini. Dari jawa banyak mengalir migrant ke pulau-pulau lain & sebaliknya pendatang dari pulau lain banyak mencari penghidupan baru ke Pulau Jawa.

Aliran pendatang ke Pulau Jawa sebagai salah satu akibat dari daya tarik Jawa sebagai pusat kegiatan yg berkaitan dgn modernisasi yg diperkenalkan oleh Pemerintah Belanda. Pendidikan menengah & tinggi terutama berada di kota-kota besar di Pulau Jawa, seperti Jakarta, Bandung, & Surabaya. Migrasi kaum terpelajar dari berbagai daerah, walaupun jumlah mereka tidak besar, merupakan salah satu faktor penting dari berkembangnya nasionalisme Indonesia.

Selain golongan terpelajar, ada pula pendatang-pendatang lain ke Pulau Jawa seperti pedagang, pegawai, tukang, & militer. Di Jawa Barat banyak pendatang dari Sumatra Barat, Minahasa, & Maluku. Di Jawa Tengah pendatang terbanyak dari Maluku. Di Jawa Timur banyak pendatang yg berasal dari Minahasa & maluku.

Migrasi ekstern dari pulau Jawa yg terbanyak adalah ke Sumatra. Migrasi dari Jawa ke Sumatra Timur disebabkan oleh pembukaan perkebunan-perkebunan besar, sedangkan migrasi dari Jawa ke Lampung disebabkan oleh penyempitan areal pertanian karena pertambahan jumlah penduduk.

Pelaksanaan emigrasi yg dilakukan oleh pemerintah terjadi setelah pemerintah menerima laporan tentang kemiskinan dari keresidenan Kedua. Pada tahun 1905 kelompok transmigrasi pertama sebanyak 155 keluarga didatangkan dari kedu ke Gedongtataan, Lampung, yg kemudian mendirikan sebuah desa. Sampai pada tahap ini kelihatan kegagalan yg mencolok yg disebabkan sebagai berikut:

1) Pemerintah colonial kurang mengadakan survey yg mendalam tentang daerah yg akan didatangi para transmigran.

2) Para transmigran kurang terseleksi. Banyak di antara mereka yg sudah tidak produktif karena sudah tua.

3) Pemberian bantuan kredit buat para transmigran berjalan kurang baik.

4) Kesehatan kurang terjamin sehingga angka kematian lebih tinggi dari angka kelahiran.

Dapat dikatakan bahwa pada sepuluh tahun pertama & kedua abad ke-20 transmigrasi berjalan tersendat-sendat. Walaupun demikian, pada tahun 1930 di Lampung telah menetap 20.282 orang transmigran, sedangkan di Sumatra Timur & Bengkulu masing-masing berjumlah 4.767 & 1.924 orang.

Baru pada sepuluh tahun ketiga abad ke-20 transmigrasi besar-besaran diadakan. Pada masa ini transmigrasi didasarkan pada 10 pantangan, di antaranya tidak memilih yg bukan petani, orang tua, & orang bujangan.

C. Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Indonesia pada Masa Kolonial

Peraturan hukum ketatanegaraan Hindia Belanda mengenai penggolongan penduduk di Nusantara adalah sebagai berikut:

1. Golongan Eropa & yg dipersamakan terdiri dari:

1) bangsa Belanda & keturunannya

2) bangsa-bangsa Eropa lainnya seperti Portugis, Prancis, & Inggris, serta

3) orang-orang bangsa lain (bukan Eropa) yg telah dipersamakan dgn Eropa karena kekayaan, keturunan bangsawan, & pendidikan.

2. Golongan Timur Asing yg terdiri dari golongan Cina, Arab, India, & Pakistan. Mereka berada pada lapisan menengah.
3. Golongan pribumi yaitu bangsa Indonesia asli (bumiputra) yg berada pada lapisan bawah.

Dalam masyarakat pribumi dikenal adanya pelapisan sosial berdasarkan status sosialnya, yaitu lapisan bawah, menengah, & lapisan atas.

1. Lapisan bawah adalah rakyat jelata yg merupakan penduduk terbesar & hidup melarat, bekerja sebagai petani & buruh perkebunan.
2. Lapisan menengah meliputi para pedagang kecil & menengah, petani-petani kaya, beserta pegawai.
3. Lapisan atas terdiri atas keturunan-keturunan bangsawan atau kerabat raj yg memerintah suatu daerah. Golongan ini biasanya disebut elite tradisional & elite daerah.

Mobilitas geografis adalah perpindahan tempat tinggal yg terwujud dalam migrasi ekstern maupun migrasi intern & urbanisasi, sedangkan mobilitas sosiologis berarti perpindahan pekerjaan atau kedudukan seseorang. Mobilitas sosiologis dibagi menjadi, mobilitas horizontal & mobilitas vertikal. Mobilitas horizontal berarti perubahan status atau pekerjaan seseorang tapi dalam kelas atau tingkat sosial yg sama. Mobilitas vertikal berarti perubahan status atau pekerjaan seseorang naik dari tingkat bawah ke tingkat yg lebih atas.

Dgn demikian kita mengenal bermacam elite Indonesia baru, seperti elite politik, elite budaya, & elite agama. Kesemuanya bertujuan buat memperjuangkan kepentingan nasional, mereka pun disebut sebagai elite nasional.

Pemerintah Kolonial Belanda merasa perlu memberikan perhatian khusus dalam menghadapi masyarakat Indonesia yg mayoritas beragama Islam. Dalam sejarah colonial Belanda, ternyata ideology Islam merupakan kekuatan yg besar sekali dalam mengadakan perlawanan terhadap kekuatan asing di berbagai daerah. Contohnya Perang Padri, Perang Diponegoro, Perang Aceh, beserta pemberontakan petani seperti peristiwa Cilegon & Cimareme, semua dipimpin oleh pemuka Islam & dijiwai oleh ideology Islam.

Snouck Hurgronje yg telah mempelajari Islam secara cukup mendalam tiba di Nusantara pada tahun 1889. Sejak disaat itu, politik terhadap Islam atas nasihatnya mulai didasarkan atas fakta-fakta & bukan atas rasa takut belaka. Ia mengemukakan bahwa tidak setiap pemimpin Islam bersikap bermusuhan dgn pemerintah colonial & orang yg baru pulang naik haji tidak dgn sendirinya menjadi orang fanatic & suka memberontak.

Kebijakan yg diajukan oleh Snouck Hurgronje ini merupakan bagian dari pandangan tentang masa depan Nusantara. Menurutnya, orang Islam di Nusantara hanya dapat menerima pemerintahan asing secara terpaksa. Dalam menghadapi Islam, penguasa colonial dapat mengharapkan dukungan dari kaum adat. Akan tetapi, golongan itu tidak kuasa menahan pengaruh, baik dari perkembangan Islam maupun dari proses modernisasi sehingga politik ini pun tidak dapat diharapkan buat mencapai tujuan jangka panjang.

Ia menyarankan agar dilakukan perubahan masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yg “dimodernkan” dgn budaya barat (westernisasi).

Kejadian-kejadian sekitar tahun 1912-1916 ketika Sarekat Islam sedang berkembang pesat, menunjukkan betapa peranan ideology Islam dalam menggerakkan rakyat. Ternyata buat masyarakat tradisional perbedaan yg diuat oleh Snouck Hurgronje tidaklah sesuai.

Walaupun demikian, beberapa pejabat seperti Snouck Hurgronje, Rinkes, Gonggrijp menyarankan agar Sarekat Islam diakui pendiriannya karena mereka berpandangan bahwa keberadaan Sarekat Islam merupakan kebangkitan suatu bangsa buat menjadi dewasa, baik dalam bidang politik maupun sosial.

Organisasi Islam berikutnya yg muncul setelah Sarekat Islam adalah Muhammadiyah. Organisasi ini bersifat reformis & nonpolitik. Kegiatan-kegiatannya dipusatkan dalam bidang pengajaran, kesehatan rakyat, & kegiatan sosial lainnya.

Menjelang abad ke-20 terjadilah perubahan-perubahan masyarakat di Indonesia, khususnya disebabkan oleh terbukanya negeri ini bagi perekonomian uang.

Gagasan tentang kemajuan itu juga muncul pada diri R.A. Kartini (1879-1904). Gagasannya tersebut dituangkan dalam surat-surat pribadinya yg diterbitkan pada tahun 1912 atas usaha J.H. Abendanon dgn judul Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Penerbitan buku itu menimbulkan rasa simpati mengenai gerakan emansipasi wanita di Nusantara.

Keadaan gadis-gadis seperti yg dialami Kartini, juga terdapat di daerah Pasundan. Seorang guru Belanda yg berada di Indonesia pada tahun 1913 menulis tentang keadaan wanita Sunda. Dalam tulisannya tersebut ia mengemukakan bahwa kehidupan wanita Sunda melalui tiga periode, yaitu sebagai berikut:

a. Masa kanak-kanak yg penuh kegembiraan

b. Masa kehidupan patuh sebagai istri & ibu

c. Masa penuh pengaruh sebagai nenek

Kehidupan gadis semacam itu sebenarnya hanya terdapat pada kalangan menak (bangsawan) yg berbeda dgn gadis-gadis dari kalangan petani maupun pekerja. Keterbelakangan pendidikan menjadi pola yg umum pada mereka. Pada golongan petani & pekerja, perkawinan di bawah umur sering terjadi seperti halnya pada golongan menak. Oleh karena itu, Kartini sangat mendambakan pengajaran bagi gadis-gadis.

Fase berikutnya dari gerakan wanita Indonesia diawali dgn berdirinya sebuah Perkumpulan Putri Mardika. Perkumpulan itu bertujuan buat mencari bantuan keuangan bagi gadis-gadis yg ingin melanjutkan pelajaran. Sedangkan Perkumpulan Kartinifonds (Dana Kartini) didirikan pada tahun 1912 atas usha Tuan & Nyonya C. Th. Van Deventer yg bertujuan buat mendirikan sekolah-sekolah Kartini. Sekolah yg pertama didirikan di Semarang pada tahun 1913, kemudian menyusul di kota-kota Jakarta, Malang, Madiun, & Bogor.


Sementara itu muncul banyak sekali Perkumpulan wanita, antara lain Madju Kemuliaan di Bandung Pawijatan Wanita di Magelang, Wanita Susilo di Pemalang, & Wantia Hadi di Solo. Organisasi keagamaanpun memiliki bagian organisasi kewanitaannya, seperti Wanito Katholik, Aisyiah dari Muhammadiyah, Nahdlatul Fataad dari NU, & Wanudyo Utomo dari SI.

Di samping organisasi-organisasi wanita, terdapat juga surat kabar & majalah wanita yg berfungsi sebagai penyebar gagasan kemajuan kaum wanita & juga sebagai media pendidikan & pengajaran. Pada tahun 1909 di Bandung terbit Poetri Hindia, walaupun dgn redaksi kaum laki-laki. Di Brebes pada tahun 1913 terbit Wanito Sworo yg dipimpin oleh seorang guru dari Ponorogo. Wanito Sworo terbit dgn menggunakan bahasa & huruf Jawa. Sebagian juga dalam bahasa Melayu. Isinya mengenai kewanitaan praktis.

Poetri Merdika di Jakarta merupakan surat kabar yg sangat maju pada tahun 1914. Artikel-artikelnya tertulis dalam bahasa Belanda, Melayu, & Jawa. Melalui terbitnya Poetri Merdika, semangat emansipasi wanita bebeserta masalah-masalah yg terkait dengannya didiskusikan. Perpaduan pendidikan antara kaum laki-laki & perempuan, pemberian kelonggaran bergerak bagi kaum putri, berpakaian Eropa, beserta kesempatan pendidikan & pengajaran merupakan bahan perdebatan yg cukup menarik.

Beberapa surat kabar yg lain misalnya, di Semarang terbit Estri Oetomo, di Padang terdapat Soera Perempuan dgn redaksi Nona Saadah yg seorang guru HI, di Me& terbit Perempoean Bergerak dgn redaksi Parada Harahap.

Kongres wanita pertama diadakan pada tanggal 22 Desember 1928 setelah mendapatkan pengaruh dari diselenggarakannya Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928 yg melahirkan Sumpah Pemuda. Kongres Wanita tersebut melahirkan Perserikatan Perhimpunan Istri Indonesia (PPII). Tanggal 22 Desember kemudian diperingati sebagai hari ibu sebagai hari lahirnya kesadaran yg mendalam wanita Indonesia tentang nasibnya, kewajibannya, kedudukannya, & keangotaannya dalam masyarakat.

Berbeda dgn PPII, Istri Sedar yg didirikan di Bandung pada tanggal 27 Maret 1923 semata-mata merupakan organisasi politik. Pada tahun 1932, setelah kongresnya yg kedua, salah satu programnya adalah menyokong suatu pendidikan nasional yg berdasarkan kebutuhan kaum melarat & atas dasar-dasar kemerdekaan & percaya kepada diri-sendiri. Tahun 1932 merupakan tahun perlawanan umum terhadap undang-undang. “sekolah liar” yg kemudian menjadi tema sebuah novel Suwarsih Djojopuspito berjudul Buiten het Gareel (Diluar Kekangan). Suwarsih adalah istri Sugondo Djojopuspito (Ketua Kongres Pemuda II) yg pada waktu itu menjadi pimpinan Sekolah Taman Siswa, Bandung. Selain itu bukunya tersebut juga menggambarkan betapa eratnya Taman Siswa & gerakan nasional beserta pandangan penulisnya sebagai penganut feminisme & nasionalisme yg terkandung dalam Istri Sedar.
Share this article :

0 komentar:

mobile ads

 
powered by Blogger